Arsip Kategori: Budaya

Jokowi: Jakarta harus jadi pusat kebudayaan nusantara

Jakarta (ANTARA News) – Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa Jakarta sebagai ibu kota negara harus menjadi pusat kebudayaan nusantara.

“Jakarta adalah ibu kota negara, maka dari itu, harus menjadi pusat kebudayaan Indonesia, pusat kebudayaan nusantara, dengan tuan rumah Betawi,” kata Jokowi di sela Kirab Budaya Rakyat di pelataran Monas, Jakarta Pusat, Minggu.

Baca lebih lanjut

Nobel Perdamaian Hanya Akal-Akalan Negara Barat

Anggota Majlis Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Iran, Vahid Ahmadi menilai hadiah Nobel Perdamaian telah berubah menjadi semacam ‘alat’ bagi negara-negara Barat untuk mempromosikan kepentingan mereka sendiri.

“Hadiah Nobel Perdamaian adalah alat di tangan negara-negara Barat yang bergantung pada AS dan Zionis (Israel) untuk mencapai tujuan mereka,” ujarnya di Teheran, seperti dinukil Press TV, Senin (15/10).

Baca lebih lanjut

Hikmah Di Balik Meletusnya Merapi

Gunung Merapi di Jawa Tengah sejak 3 November 2010 hingga hari ini, 7 November   2010 setiap hari tanpa henti memuntahkan lahar dan hawa panasnya. Aktifitas gunung yang mulai meletus tanggal 26 Oktober 2010 ini makin hari terlihat makin meningkat.

Bahkan kekuatan letusan tersebut dikabarkan mendekati atau hampir sama dengan letusan yang terjadi pada tahun 1872 yang selama ini dianggap sebagai letusan terbesar gunung ini. Rangkaian letusan ini telah mengancam 32 desa di sekelilingnya dan memakan korban nyawa lebih dari 100 orang.

Sementara letusan yang terjadi pada  tahun 1930, dilaporkan berhasil menghancurkan tiga belas desa dan menewaskan 1400 orang, Menurut catatan,  ini adalah letusan dengan catatan korban terbesar hingga saat ini.

Gunung Merapi yang memiliki ketinggian 2.968 m adalah satu dari gunung api teraktif di Indonesia. Lereng selatan gunung ini berada di kabupaten Sleman, wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, sisanya  berada di dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu sisi barat di kabupaten Magelang, kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur serta kabupaten Klaten di sisi tenggara.

Baca lebih lanjut

Jawara Beksi Pernah Ngadu Kejagoan di Jombang Ciputat Tangsel

Acep Najih, S.Pd, cucu Ki Ali Munah

Acep Najih, 40, cucu Ki Alimunah perintis generasi pertama silat Beksi Betawi dari Peninggilan Ciledug Kota Tangerang dan Tangerang Selatan (Tangsel) Banten. Acep, seorang PNS guru SMA N 4 Tangsel menyatakan, Perguruan Silat Beksi sangat banyak. “Engkong saya pernah cerita Beksi, bahwa guru besarnya adalah perempuan. Perempuan ini dapat beksi dari monyet putih. Ki Ali tak pernah cerita  pernah belajar beksi kepada selain perempuan itu. Ki Ali juga punya saudara-saudara seperguruan, yaitu yang pertama Ki Rifa (Ki H Riun) bin Rimin asli dan tinggal di Cengkareng Jakarta Barat sekarang.

Perguruan Silat Beksi Ki Alimunah telah dibuka sejak beberapa bulan lewat oleh Pak Acep Najih Spd. Dia rajin bersilaturahim  ke Baba Mardi, 65 tahun, putera kandung Ki Rifa, tinggal di Tanjung Pasir Tangerang Utara Banten. Berdasarkan cerita Baba Mardi, Ki Alimunah dan Ki Rifa belajar Beksi ke  Lie Tong San dan dalam waktu berbeda, mereka punya adik seperguruan bernama Murhali dari Kampung Juru Mudi Dadap.

Baca lebih lanjut

Air Mata Sang Haji

Beberapa hari lalu saya turut hadir mengantar orang yang akan berangkat ibadah haji. Pada hari itu diadakan semacam proses pelepasan mirip seperti kita melepas seseorang yang meninggal dunia. Mengapa saya katakan demikian, sebab ada tangis dan air mata di sana. Air mata orang-orang yang melepas dan air mata dari sang calon haji sendiri. Doa-doa pelepasan yang dibacakan disertai sebutan asma Allah menambah bulu kuduk saya berdiri. Rasa haru pun menyelimuti. Benar-benar mirip dengan melepas kepergian jenazah, pikir saya.
Kemudian pikiran saya bertanya, mengapa harus ada tangis dan air mata pada saat seseorang berangkat untuk beribadah haji? Bukankah ia hanya akan pergi sesaat untuk menunaikan panggilan Allah, Tuhan Penguasa Alam. Mengapa harus disedihkan?

Baca lebih lanjut

Para pemimpin Muhammadiyah

Saat didirikan tahun 1912, Muhammadiyah diharapkan mampu menjadi motor pembaruan praktek ibadah Islam, serta menggaungkan dakwah melalui organisasi yang bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan. Berikut adalah catatan profil beberapa tokoh Muhammadiyah.

KH Ahmad Dahlan (pendiri dan ketua Muhammadiyah 1912-1923)
Sebagai seorang ahli dalam agama Islam, ditandai dengan beberapa kali berangkat ke tanah suci dan tinggal disana untuk berguru, serta saudagar batik di kampung Kauman, Dahlan berkesempatan menyebarkan paham Muhammadiyah kepada berbagai kalangan.
Dilakukan ditengah munculnya kesadaran berbangsa menjelang kemerdekaan, dakwahnya ke berbagai wilayah Nusantara mendapat kecurigaan penguasa Hindia Belanda. Ditandai antara lain dengan larangan pemerintah kolonial bagi Muhammadiyah untuk membentuk cabang organisasi di luar Yogyakarta. Larangan ini baru berubah saat pemerintah Hindia memberikan izin perluasan cabang Muhammadiyah seluruh Nusantara tahun 1921. Baca lebih lanjut