Dugaan Adanya Mafia Narkoba Istana Tak Perlu Kebakaran Jenggot

Ketua MK Mahfud MD menjelaskan pernyataannya soal mafia dalam grasi narkoba. Mahfud menegaskan dia tidak pernah menyebutkan mafia grasi berasal dari lingkungan istana.

“Saya tak mengatakan bahwa yang melakukan ini orang istana. Tapi saya menduga kuat ada orang luar yang karena kecanggihannya bisa meyakinkan istana bahwa grasi itu tepat,” ujar Mahfud, Jumat (9/11) malam.

Sebelumnya, Mensesneg Sudi Silalahi merasa tersinggung atas ucapan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD soal grasi bagi terpidana kasus narkoba Meirika Franola atau Ola. Sudi menyanggah tudingan Mahfud yang menyebut bahwa mafia hukum sudah masuk Istana.

“Oleh sebab itu, bila benar saudara Mahfud MD mengatakan seperti yang saya sampaikan itu, saya sangat keberatan dan terhina dengan kata-kata Mahfud MD Ketua MK yang menuduh mafia narkoba sudah masuk ke lingkaran Istana,” kata Sudi di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta, Jumat (9/11).

Menurut beberapa pengamat, seharusnya istana tidak perlu kebakaran jenggot dengan pernyataan Mahfud tersebut. Jika memang Istana merasa sudah melakukan hal yang benar, maka bisa membuktikan diri bersih dari mafia dan berhenti memberikan grasi pada terpidana narkoba. Baginya, pemberian grasi tersebut selain melawan kepentingan umum, juga tidak memberikan efek jera pada pelaku.
Adapun dugaan Mahfud MD itu muncul karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan grasi kepada terpidana kasus narkoba M eirika Franola alias Ola pada September kemarin, dari hukuman mati menjadi penjara seumur hidup. Grasi tersebut tidak menyadarkan Ola.

Tersangka kasus narkoba berinisial NA ditangkap membawa narkoba (kurir) di Bandara Husein Satranegara pada 4 Oktober lalu. NA mengaku anak buah Ola. Ola diduga mengendalikan bisnis narkoba di balik jeruji besi, Lembaga Pemasyarakatan Tangerang.

Pertimbangan memberi grasi ketika itu karena Ola bukanlah kurir. Jika NA terbukti anak buah Ola, Presiden SBY salah menerima informasi dari lembaga dan menteri terkait.

Dugaan adanya mafia grasi narkoba makin kuat, seorang hakim ditangkap sedang pesta sabu di sebuah hotel beberapa waktu lalu. Pihak Istana bereaksi keras terhadap dugaan tersebut. Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi meminta Mahfud membuktikan ucapannya.

Grasi SBY Kurang Hati-Hati

Sebelumnya diberitakan bahwa Ketua Mahkamah Konstitusi ini sependapat dengan pakar hukum Yusril Ihza Mahendra yang mengatakan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak berhati-hati dalam memberi grasi kepada terpidana narkoba.

“Kejahatan narkoba ini sebenarnya adalah kejahatan orang-orang yang pada umumnya pembohong. Orang yang terlibat narkoba itu terkadang suka pura-pura sakit, padahal itu akalnya jalan. Benar kata Yusril (Yusril Ihza Mahendra), kita kecolongan,” ujar Mahfud di ruang kerjanya, di Mahkamah Konstitusi, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (6/11/2012).

Mahfud berpendapat prosedur yang dilakukan Presiden SBY dalam memberikan grasi terhadap terpidana narkoba sudah benar. Grasi tersebut sudah berlaku dan harus dilaksanakan. “Kita kecolongan dan ceroboh, tidak komprehensif, yang memberi grasi itu orang-orang yang tertipu penjahat narkoba,” tambahnya.

Ia juga mendesak agar Presiden tidak lagi memberikan ampun pada penjahat narkoba, karena mereka adalah adalah penjahat kemanusiaan yang paling besar. “Saya kira, rakyat harus setuju dengan pendapat Yusril,” ujarnya.

Pakar hukum Yusril Ihza Mahendra, melalui akun twitternya, menilai bahwa grasi yang diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi boomerang. “Presiden kurang hati-hati mengambil keputusan. SBY adalah presiden pertama yang memberikan grasi pada kasus narkoba,” tulisnya di twitter, Selasa (6/11/2012).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s