Sekulerisme Turki; Antara Keinginan Publik dan Syahwat Politik Oposisi

Turki yang merupakan negara dengan penduduk mayoritas muslim tetap saja memandang kontroversi atas perempuan yang mengenakan jilbab. Banyak kontradiksi atas budaya, politik, dan sosial-ekonomi yang mendasarinya. Namun begitu, perjuangan warga muslim Turki untuk melepaskan diri dari sistem sekuler yang dibangun oleh Mustafa Kemal Ataturk (pendiri sekulerisme di Turki) tak pernah berhenti. Dan momentum tersebut seakan menemui jalannya ketika Partai Keadilan dan Persatuan (AKP) memegang kekuasaan selama satu dekade di Turki.

Selama 10 tahun partai AKP berkuasa atas Turki  telah mempengaruhi pola dan perilaku kehidupan politik, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat muslim di sana. Maraknya pemakaian jilbab dan beberapa kehidupan sosial yang mengarah pada simbol keislaman mengindikasikan hal tersebut.

Hal tersebut tidak lepas dari adanya dukungan pemerintah yang melalui partai AKP misalnya mencabut larangan jilbab melalui RUU. Alhasil, perempuan muslim Turki yang selama puluhan tahun dilarang mengenakan jilbab di universitas-universitas kini telah terbebas untuk menentukan pilihannya. Hal itu merupakan kekecewaan dari pihak sekuler dan sebaliknya merupakan keberhasilan dan keuntungan bagi kelas menengah yang tumbuh konservatif membentuk basis politik AKP.

Tak hanya itu, para sekularis di Turki juga khawatir terhadap Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa untuk kemudian menjadi gerakan keagamaan Islam yang berakar dan dapat meningkatkan profil publik Islam akan jilbab.

Sebagaimana kita tahu, bahwa Mustafa Kemal Atatürk, pendiri The Founder Of Modern Turkey, melihat jilbab sebagai halangan sekularisasi dan modernisasi Republik Turki. Visi Ataturk belum berhasil sebab kecenderungan beragama penduduk Turki tetap tinggi. Meskipun jilbab telah dilarang di sekolah-sekolah, universitas dan masyarakat sipil, tapi lebih dari 60% dari perempuan Turki menutupi kepala mereka dengan pilihannya.

Tumbuhnya semangat keislaman masyarakat muslim Turki ini menjadi batu sandungan bagi kaum sekuler yang ingin menuntaskan misi Atatruk untuk memisahkan Turki dari agama (Islam).  Akhirnya, beberapa hari belakangan, dengan mendapat dukungan dari partai oposisi yang sekuler, masyarakat sekuler Turki mulai melakukan berbagai propaganda mengembalikan Turki pada sekularisme.

Tato Ataturk

Salah satu bentuk propaganda dan dukungan pada sekularisme Turki adalah maraknya TATO tanda tangan Mustafa Kemal Ataturk, Bapak Sekuler Turki yang membabat Islam di masa lalu, dalam dua tahun belakangan di kalangan kaum muda Turki.

“Tato ini semakin populer setiap hari, terutama di kalangan kaum muda,” kata Murat Arti, seorang seniman tato dan pemilik kios Tattoo Murat di distrik Sisli Istanbul.

“Mereka (kaum muda Turki yang sekular, Red) pikir pemerintah sedang mencoba untuk membuat mereka lupa akan Ataturk. Pemerintah bahkan mencoba untuk mengubah konstitusi sekarang.”

Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), partai yang berkuasa di Turki saat ini memiliki akar dalam Islam politik, dan telah memperburuk kekhawatiran di kalangan oposisi anggota partai sekuler yang memiliki rencana jangka panjang untuk mengubah negara ini dari sekuler menjadi negara republik Islam.

Frekuensi pembuatan tato tanda tangan “K. Ataturk” meningkat sebagai reaksi terhadap referendum konstitusi di Turki.

AKP mengusulkan referendum agar amandemen konstitusi berlangsung. Dengan demikian, ini membuat oposisi lebih waspada bahwa jika referendum memilih “ya” akan memberikan AKP kekuasaan terlalu besar atas Mahkamah Konstitusi, dewan tertinggi jaksa penuntut umum, hakim, dan selanjutnya konsolidasi partai kekuasaan.

Maraknya tato ini jelas merupakan sebuah usaha sekular yang ingin Turki tetap sekular.

Demo Kaum Sekuler

Dan yang masih hangat adalah peristiwa demonstrasi para pendukung sekularisme didukung partai oposisi memprotes kebijakan Partai AKP di Turki beberapa waktu lalu. Dikabarkan para demonstran ini membawa bendera nasional Turki dan meneriakkan slogan-slogan, “Turki yang benar-benar merdeka” dan “Kami adalah tentara Mustafa Kemal”. Demonstrasi yang terjadi pada hari Senin (29/10) ini dikordinir oleh puluhan organisasi masyarakat sipil dan didukung oleh partai-partai oposisi.

Sebagian demonstran lainnya meneriakkan slogan-slogan anti pemerintah, “Turki adalah sekuler dan akan tetap sekuler” dan “kami ada di sini meskipun ada pemerintahan AKP.”

Dampak Sekularisasi Negara

Mustafa Kemal Ataturk bagi sebagian kaum muslimin masih dianggap sebagai pahlawan. Karena memang buku-buku sekolah menjelaskannya demikian. Padahal dialah yang menyebarkan ide-ide sekularisme. Dengan ide sekularisme inilah, sebagian kaum muslimin merasa bebas untuk bertindak. Karena baginya yang namanya urusan agama hanya urusan individu dengan Allah; ibadah ritual semata.

Sementara kehidupan sehari-hari, menjadi wewenang manusia untuk mengaturnya. Hingga muncullah, pergaulan bebas, transaksi keuangan yang berbau riba, memperoleh uang dari jalan judi tidak menjadi masalah dan seterusnya.

Begitulah akibatnya, bila ide sekularisme dijunjung tinggi. Apakah kalian tidak memperhatikan hal ini, wahai para pendukung sekularisme?

(dow/berbagai sumber)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s