Perubahan Iklim Ekstrem, Tanda Kiamat?

Badai dasyat di seluruh dunia akibat perubahan iklim telah mendinginkanseluruh bumi bagian Utara, bongkahan besar hujan es menyebabkan kematian di jalan-jalan di Tokyo, badai tropis mengganas di kepulauan Hawaii dan salju turun di New Delhi. Begitulah gambaran dampakperubahan iklim dalam film “The Day After Tomorrow”.

Film ini mengangkat tema Perubahan Iklim dengan menunjukkan prediksi dampak yang paling ekstrim dan menyebabkan dunia berada diambang kiamat menuju jaman es baru. Apakah dampak yang digambarkan dalamfilm tersebut mungkin terjadi? Munqkin dan mungkin juga tidak.

Tingkat dan jangka waktu bencana yang digambarkan di film lebih ekstrem dan lebih cepat daripada prediksi para ahli perubahan iklim dalam modelnya. Namun ada kisah nyata mengenai perubahan iklim yang disebabkan ulah manusia didalamnya.

FIKSI vs KENYATAAN

Pembekuan Seketika dan Berhentinya Arus Teluk 

Dalam film digambarkan bahwa belahan bumi Utara mengalami jaman es baru, akibat terhentinya ‘North Atlantic Current” atau juga dikenal sebagai Arus Teluk (Gulf Stream).

Arus Teluk tersebut berhenti menghantarkan air dan suhu yang lebih hangat ke belahan bumi bagian utara karena sejumlah besar air tawar dingin masuk ke dalam samudra sebagai akibat dari mencairnya es di daerah artik. Pada kenyataannya tidak mungkin setengah dari dunia akan membeku seketika.

Namun, sebagian ilmuwan mengatakan bahwa ada kemungkinan bahwa setelah 100 tahun, arus laut dapat terhenti. Kebanyakan model perubahan iklim menunjukkan arus tersebut akan melambat dan beberapa bahkan mengatakan arus tersebut akan terhenti secara regional.

Butiran Es

Dalam film butiran es yang jatuh di Tokyo sebesar buah jeruk. Pada kenyataannya badai tetap berbahaya, walau butiran es yang dihasilkannya tidak sebesar itu, Para ahli iklim telah sepakat bahwa badai siklon tropis akan menjadi lebih intens dan sering. Badai siklon telah terbukti mengancam stabilitas daerah pantai, ekosistem, kesehatan dan kehidupan.

Tornado

Film ini menunjukan bagaimana tornado memporak-porandakan Los Angeles. Pada kenyataannya bulan Mei 2003, AS mengalami 562 tornado dan mengakibatkan korban jiwa sebanyak 41 orang. Pada bulan Maret 2004, badai angin yang pertama kalinya terjadi di Atlantik Selatan telah melintasi Brazil dengan kecepatan angin sekitar 90 mph.

Di Indonesia sendiri, pada 5 tahun terakhir sering terjadi hujan angin yang merobohkan pohon-pohon besar di Jakarta. Pada kondisi normal, seharusnya angin tidak bergerak sedemikian cepatnya. Namun kejadian ini tidak mengejutkan pada ahli iklim dunia yang telah memprediksikan hal tersebut sebagai akibat dari perubahan iklim global.

Kenaikan Permukaan Air Laut

Film menggambarkan New York yang diserang oleh badai gelombang air laut sebagai akibat naiknya permukaaan air laut yang disebabkan hujan yang semakin deras dan melelehnya es di daerah kutub.

Para ahli iklim memprediksikan bahwa pencairan lapisan es di Greenlanddan Antartika Barat dapat menaikkan permukaan air laut sebanyak enam meter dalam waktu 1000 tahun kedepan. Ini menengge1amkan banyak pulau-pulau kecil dan menggenangi daerah pantai di seluruh dunia. Dalam kenyataannya banjir akibat meningkatnya frekuensi hujan telah mengakibatkan bencana yang tidak pemah terbayangkan sebelumnya.

Baru-baru ini kepulauan Haiti dan Dominika mengalami bencana banjir yang memakan korban ribuan jiwa. Di tahun 2000 sebanyak 10,000 rumah di Inggris hancur diterjang banjir. Di Indonesia sendiri masih segar dalam ingatan. Banjir besar yang melanda Jakarta pada awal tahun 2002.

Para ilmuwan dunia memperkirakan bahwa pada tahun 2080 sebanyak 94 juta orang didunia terancam oleh banjir yang dapat mengakibatkan kerusakan, erosi tanah, hujan polutan, ancaman kesehatan dan kematian.

Terbelahnya Lempeng Es Dunia

Dalam film satu lempeng es di Antartika pecah dan terbelah. Tahun 2003 hal tersebut benar-benar terjadi di daerah Artik. Lempeng Ward Hunt di Pulau Ellesmere, Canada mendadak terbelah menjadi dua. Kenaikan temperatur sebesar 0.4�C setiap dekadenya sejak 1967 di daerah tersebut dipercaya para ahli iklim dunia sebagai penyebab pecahnya lempeng tersebut sebagai akibat percepatan perubahan iklim.

Pada tahun 2002, pada saat pembuatan film “The Day After Tomorrow”, lempeng es Larsen B sebesar kira-kira 1250 meter persegi pecah mendadak dan menambah daftar dampak perubahan iklim dunia.

(tekno/tutut)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s